Saturday, September 15, 2012

Tentang Cabut Gigi dan Sekadar Melanjutkan


Foto: AtinnaRizq



Tiga hari yang lalu gigi saya dicabut. Gigi geraham bawah sebelah kanan.  Saya tahu, agak aneh memulai blog dengan kisah “Petualangan Mencabut Gigi”, tapi ya sudahlah..setidaknya blog ini (akhirnya) ada isinya. Jadi begini ceritanya..



Kawan saya ini, si gigi geraham bawah sebelah kanan.. mari kita panggil saja..Garwo, bisa dikatakan sudah melalui perjuangan panjang yang berat dan menyakitkan, saya bertahan selama belasan tahun, meyakinkan dirinya,( dan saya terutama), kalau ia masih kuat, ia masih bisa melanjutkan perjalanan dari petualangan kuliner yang melibatkan banyak makanan, minuman dan.. mmmm... semacamnya.

Jauh sebelum saya berpisah dengan Garwo, ia memang sudah menunjukkan gejala kurang sehat. Kurang lebih saat saya kelas 2 SMP, sekitar 15 tahun yang lalu, perjalanan panjang Garwo yang penuh dengan kepahitan dimulai. Dua hari saya tidak bisa tidur, tubuh Garwo yang sudah bolonglah penyebabnya. Hari ketiga saya menyerah. Saya pergi ke puskesmas terdekat, tujuannya satu dan sudah jelas; menyingkirkan Garwo.. Untuk selamanya. Sesampainya di puskesmas, ketimbang mencabutnya, dokter disana menyarankan untuk menambalnya saja,  alasannya cuma satu: “sayang”. Jadilah, berdasarkan alasan bernada sedikit melankolik dari si dokter puskesmas ini, Garwo terus menemani saya, hingga 15 tahun kemudian. 15 tahun yang penuh dengan  aksi akrobat lidah, berkumur pelan ditengah keramaian, rasa nyeri tertahan, dan dompet penuh dengan stok tusuk gigi. Tidak lupa tatapan aneh orang-orang di toilet melihat seorang perempuan sibuk mengorek-ngorek giginya dengan mulut terbuka macam kudanil sedang menguap. Saya tidak tahu apa ini masalah kapabilitas, kualitas atau memang takdir, tapi perlahan tambalan Garwo lepas. Hingga akhirnya..

Kurang lebih sekitar tiga hari sejak kepindahan saya kembali ke Jogja, Garwo sepertinya sudah tidak lagi bisa bertahan. Seperti kebanyakan hari saat saya di Jogja, saya memulai hari dengan sarapan di Alun-alun kidul. Lontong opor dan segelas teh tawar hangat. Hari yang biasa, masih dengan mata setengah sembab berkedok kacamata hitam dan garis liur yang mengerak, saya menyantap lontong opor, lengkap dengan tambahan bubuk kedelai. Pagi hari yang damai dan biasa di Jogja, pasangan muda datang dan pergi untuk sarapan bersama, satu dua orang menunggu pesanannya dibungkus, anak-anak  SD berbaju olahgara sibuk mengatur barisan, dan...  “GLUTAKKK..!!!” ......... Dunia berhenti seketika.  Kemudian jantung saya. Diiringi mata saya yang seketika membelalak dengan napas tertahan.
Garwo sudah mencapai komanya.

Perkara cabut gigi sama sekali tidak pernah masuk dalam prioritas keuangan saya  semenjak saya memutuskan untuk kembali berdomisili di Jogja lagi. Bahkan perkara ini sama sekali tidak pernah masuk dalam proritas 28 tahun hidup saya. Pertama adalah mencari rumah, kemudian membangun tempat kerja, membenahi urusan hati yang sempat amburadul, kemudian travelling, baik itu untuk urusan pekerjaan ataupun liburan. Selebihnya menghabiskan hari dengan malas-malasan, sedikit waktu untuk kerja keras, untuk kemudian malas-malasan lagi. Titik. But a woman’s got to do what a woman’s got to do: cabut gigi. Sial.

15 tahun tidak pernah menginjak ruangan dokter gigi, cukup untuk membuat saya deg-degan setengah mati di ruang tunggu. Tangan saya basah oleh keringat, rasa dingin saya rasakan di pundak dan punggung, kaki terasa tak bertulang, berulang kali saya menyeka kening, dan berkata pada diri sendiri “santai kiki... santaaaaaii... setelah ini semuanya akan baik-baik saja.. loe udah ngga butuh tusuk gigi, udah ngga perlu mangap-mangap macam kudanil di depan kaca, udah ngga ada lagi nyeri tiba-tiba karena ada satu dua nasi bandel yang nyelip dan tanpa sengaja menyentuh saraf-saraf bajingan itu. This is it.. this is the final. Everything is going to be nothing but better” .

Pengalaman cabut gigi pun cukup surreal. Saya selalu berpikir imaji akan dokter gigi psikotik yang selalu bermasker, dan kerap kali tertawa megah saat mencabut gigi pasiennya sambil mendengarkan lagu seriosa, cuma ada di film-film horor kelas B. Tidak pernah menyangka kalau saya akan berperan di dalamnya. Yep, tepat seperti itulah situasi di dalam. Untungnya dalam film kali ini, ketimbang mati, saya cuma berakhir dalam kondisi nyut-nyutan dan sedikit giting. Saya begitu tegang, sampai si dokter berulang kali menyuruh saya rileks, karena itu rupanya menyebabkan Garwo semakin bandel tidak mau dicabut. Dan saya harus berkali-kali minta maaf karena tidak sadar menggigit tangan pak dokter. Akibatnya, berulang kali saya harus disuntik bius lokal. Sampai saat prosesi eksekusi Garwo selesai dilakukan, saya merasa tidak punya geraham bawah. Sama sekali.

Entah apakah ini ada hubungannya dengan pemberian obat bius yang terlalu ambisius, namun dalam perjalanan pulang di taksi, tiba-tiba saya merasa luar biasa melankolik, tiba-tiba saya rindu pada Garwo, rindu dan takut kalau-kalau saya akan lagi-lagi merindukan masa-masa penuh dengan tusuk gigi dan fitnah sebagai siluman kudanil.. saya butuh bahu untuk menangis. Bagaimanapun juga, Garwo sudah menjadi bagian dari hidup saya, hampir sepanjang hidup. Saya sedikiiiiit lagi ada dalam kondisi dimana saya berpikir untuk memposting status di Facebook.  (Untuk ini, terima kasih Tuhan (apapun kau) atas kendali diri terhadap social media yang telah kau berikan untukku pada saat itu. Amin). Tapi dibalik itu, ada sedikit kelegaan saya rasakan. Setidaknya mulai hari ini, beban saya sedikit berkurang. Dan saya pun bisa memulai kembali hidup saya di Jogja dengan rencana yang sebelumnya sudah saya susun rapih dan manis.

Tiga hari kemudian dan kuburan Garwo masih terasa nyeri. Malam pertama saya terbangun pukul 2 dini hari karena kesakitan setengah mati, sampai dua tablet pereda nyeri saya tenggak. Hasilnya saya baru bangun pukul 12 siang dan merasa seperti kain gombal kumal dan penuh tar terongok di garasi seseorang. Tiga hari kemudian dan sudah dua minggu di Jogja. Dan tanpa sadar dari semenjak saya mengenyahkan eksistensi garwo, saya belum memulai apapun. Apapun yang berarti. Berulang kali melihat kontrakan dan tidak ada yang berhasil, entah harganya terlalu mahal, ventilasinya tidak bagus, terlalu dekat dengan tetangga, bangunan yang terlalu baru, catnya terlalu ngejreng, kamar mandinya terlalu kotor, lantainya terlalu biru, terlalu dekat dari jalan raya, terlalu jauh dari jalan raya, terlalu dekat dengan mesjid, terlalu dekat dengan sumur, calon induk semang yang terlalu cerewet, calon tetangga yang terlalu interogatif, bla bla bla blllaaaahh... Sudah dua minggu dan satu-satunya check list yang saya lakukan baru:   Mencari kontrakan.

Seperti juga pengeluaran untuk eksekusi Garwo, hal ini tidak pernah masuk dalam rencana sebelumnya. Seharusnya saat ini saya sudah tidak merasakan nyeri, seharusnya saat ini saya sudah bisa makan (apapun) dengan perasaan merdeka. Dan seharusnya saat ini saya sudah sedang menata rumah baru saya. Membeli perabotan untuk ruang kerja saya. Membuat rencana produksi untuk enam bulan kedepan. Menunggu kiriman mesin jahit dan peralatan produksi saya. Seharusnya saat ini saya sudah sedang dalam perjalanan yang saya rencanakan. Mencontreng satu persatu to do list dan menjalankan hidup baru atau apapun sebutannya dengan senyum merekah. Bangun pagi dengan secangkir kopi dan perasaan lega. Perasaan lega karena akhirnya, saya membuat keputusan yang tepat. Keputusan semacam menyingkirkan Garwo dalam hidup saya, ..atau kembali ke Jogja.

Tentu saja, saya tidak menyesal sudah mengeksekusi Garwo, hanya saja.. mungkin saya terkejut bahwa ternyata hingga hari ini saya masih merasakan nyerinya, masih terganggu atas memori atasnya, masih meragukan keputusan yang saya buat, ‘well setidaknya saya bisa bertahan selama 15 tahun jadi siluman kudanil, apa susahnya bertahan 15 tahun lagi..’. Seperti juga saat saya mencoba peruntungan di Jakarta, selama satu tahun saya kembali menggeluti dunia antropologi yang ternyata kembali membuat saya jatuh cinta, tapi toh tidak berhasil membuat saya jatuh cinta pada Jakarta. Tapi setidaknya saya berhasil bertahan.. 
Tidak ada yang pernah bilang kalau memulai akan jadi hal sesulit dan sesunyi ini.

Tidak ada yang lebih menyebalkan selain meragukan keputusan yang sudah terlanjur dibuat. Itu makanya disebut terlanjur. Dan perkaranya kali ini tentu saja bukan lagi soal penyesalan, tapi melanjutkan. Semoga saat ini Garwo sudah tenang, dan mungkin sedikit bahagia melihat penderitaan yang masih dia tinggalkan pada gusi geraham saya. Saya tidak tahu sampai kapan nyeri ini akan bertahan, seperti juga saya tidak tahu sampai kapan keraguan akan keputusan saya untuk kembali ke Jogja dan memulai semua rencana saya dari titik nol besar ini berakhir. Saya tahu saat ini saya memiliki priviledge yang luar biasa besar dan patut disyukuri, bahwa saya diberi kemampuan untuk menjalankan rencana atas hidup saya sendiri. I own my life! What could be better than that?!! Hmmm... Pada kenyataannya saya terlalu dimabukan dengan daftar-daftar rencana tanpa sebelumnya benar-benar mempersiapkan diri kalau ini bukan sekadar jalan setapak pinggir kota, apalagi jalan tol bebas hambatan. Sekali lagi, ini bukan lagi perkara menyesal, tapi melanjutkan. Bukan pula perkara meyakinkan diri, tapi membuktikan. Hidup lagi-lagi soal memutuskan dan menerima konsekuensi, soal menahan nyeri dan bertahan sendiri, soal menunggu waktu dan mencari hasil terbaik, setidaknya untuk kita sendiri.

Istirahat yang tenang Garwo, kepergianmu tidak akan sia-sia, (semoga).