![]() |
| Foto: AtinnaRizq |
Tiga hari yang lalu gigi saya dicabut. Gigi geraham bawah sebelah kanan. Saya tahu, agak aneh memulai blog dengan kisah “Petualangan Mencabut Gigi”, tapi ya sudahlah..setidaknya blog ini (akhirnya) ada isinya. Jadi begini ceritanya..
Kawan saya ini, si gigi geraham bawah sebelah kanan.. mari kita panggil
saja..Garwo, bisa dikatakan sudah melalui perjuangan panjang yang berat dan
menyakitkan, saya bertahan selama belasan tahun, meyakinkan dirinya,( dan saya
terutama), kalau ia masih kuat, ia masih bisa melanjutkan perjalanan dari
petualangan kuliner yang melibatkan banyak makanan, minuman dan.. mmmm... semacamnya.
Jauh sebelum saya berpisah dengan Garwo, ia memang sudah menunjukkan gejala
kurang sehat. Kurang lebih saat saya
kelas 2 SMP, sekitar 15 tahun yang lalu, perjalanan panjang Garwo yang penuh
dengan kepahitan dimulai. Dua hari saya tidak bisa tidur, tubuh Garwo yang sudah
bolonglah penyebabnya. Hari ketiga saya menyerah. Saya pergi ke puskesmas
terdekat, tujuannya satu dan sudah jelas; menyingkirkan Garwo.. Untuk selamanya.
Sesampainya di puskesmas, ketimbang mencabutnya, dokter disana menyarankan
untuk menambalnya saja, alasannya cuma satu: “sayang”. Jadilah, berdasarkan alasan
bernada sedikit melankolik dari si dokter puskesmas ini, Garwo terus menemani
saya, hingga 15 tahun kemudian. 15 tahun yang penuh dengan aksi akrobat lidah, berkumur pelan ditengah
keramaian, rasa nyeri tertahan, dan dompet penuh dengan stok tusuk gigi. Tidak lupa
tatapan aneh orang-orang di toilet melihat seorang perempuan sibuk
mengorek-ngorek giginya dengan mulut terbuka macam kudanil sedang menguap. Saya
tidak tahu apa ini masalah kapabilitas, kualitas atau memang takdir, tapi
perlahan tambalan Garwo lepas. Hingga akhirnya..
Kurang lebih sekitar tiga hari sejak kepindahan saya kembali ke Jogja, Garwo
sepertinya sudah tidak lagi bisa bertahan. Seperti kebanyakan hari saat saya di
Jogja, saya memulai hari dengan sarapan di Alun-alun kidul. Lontong opor dan
segelas teh tawar hangat. Hari yang biasa, masih dengan mata setengah sembab
berkedok kacamata hitam dan garis liur yang mengerak, saya menyantap lontong
opor, lengkap dengan tambahan bubuk kedelai. Pagi hari yang damai dan biasa di Jogja, pasangan muda datang dan
pergi untuk sarapan bersama, satu dua orang menunggu pesanannya dibungkus, anak-anak
SD berbaju olahgara sibuk mengatur
barisan, dan... “GLUTAKKK..!!!” ......... Dunia
berhenti seketika. Kemudian jantung saya.
Diiringi mata saya yang seketika membelalak dengan napas tertahan.
Garwo sudah mencapai komanya.
Perkara cabut gigi sama sekali tidak pernah masuk dalam prioritas keuangan
saya semenjak saya memutuskan untuk
kembali berdomisili di Jogja lagi. Bahkan perkara ini sama sekali tidak pernah
masuk dalam proritas 28 tahun hidup saya. Pertama adalah mencari rumah,
kemudian membangun tempat kerja, membenahi urusan hati yang sempat amburadul, kemudian
travelling, baik itu untuk urusan pekerjaan ataupun liburan. Selebihnya menghabiskan
hari dengan malas-malasan, sedikit waktu untuk kerja keras, untuk kemudian
malas-malasan lagi. Titik. But a woman’s
got to do what a woman’s got to do: cabut gigi. Sial.
15 tahun tidak pernah menginjak ruangan dokter gigi, cukup untuk membuat
saya deg-degan setengah mati di ruang tunggu. Tangan saya basah oleh keringat, rasa
dingin saya rasakan di pundak dan punggung, kaki terasa tak bertulang, berulang
kali saya menyeka kening, dan berkata pada diri sendiri “santai kiki... santaaaaaii... setelah ini semuanya akan
baik-baik saja.. loe udah ngga butuh tusuk gigi, udah ngga perlu mangap-mangap
macam kudanil di depan kaca, udah ngga ada lagi nyeri tiba-tiba karena ada satu
dua nasi bandel yang nyelip dan tanpa sengaja menyentuh saraf-saraf bajingan
itu. This is it.. this is the final. Everything is going to be nothing but
better” .
Pengalaman cabut gigi pun cukup surreal.
Saya selalu berpikir imaji akan dokter gigi psikotik yang selalu bermasker, dan
kerap kali tertawa megah saat
mencabut gigi pasiennya sambil mendengarkan lagu seriosa, cuma ada di film-film
horor kelas B. Tidak pernah menyangka kalau saya akan berperan di dalamnya.
Yep, tepat seperti itulah situasi di dalam. Untungnya dalam film kali ini, ketimbang mati, saya cuma
berakhir dalam kondisi nyut-nyutan dan sedikit giting. Saya begitu tegang, sampai si dokter berulang kali menyuruh
saya rileks, karena itu rupanya menyebabkan Garwo semakin bandel tidak mau
dicabut. Dan saya harus berkali-kali minta maaf karena tidak sadar menggigit
tangan pak dokter. Akibatnya, berulang kali saya harus disuntik bius lokal. Sampai
saat prosesi eksekusi Garwo selesai dilakukan, saya merasa tidak punya geraham
bawah. Sama sekali.
Entah apakah ini ada hubungannya dengan pemberian obat bius yang terlalu ambisius, namun dalam perjalanan pulang
di taksi, tiba-tiba saya merasa luar biasa melankolik, tiba-tiba saya rindu
pada Garwo, rindu dan takut kalau-kalau saya akan lagi-lagi merindukan
masa-masa penuh dengan tusuk gigi dan fitnah sebagai siluman kudanil.. saya
butuh bahu untuk menangis. Bagaimanapun juga, Garwo sudah menjadi bagian dari
hidup saya, hampir sepanjang hidup. Saya sedikiiiiit lagi ada dalam kondisi
dimana saya berpikir untuk memposting status di Facebook. (Untuk ini, terima
kasih Tuhan (apapun kau) atas kendali diri terhadap social media yang telah kau berikan untukku pada saat itu. Amin). Tapi
dibalik itu, ada sedikit kelegaan saya rasakan. Setidaknya mulai hari ini,
beban saya sedikit berkurang. Dan saya pun bisa memulai kembali hidup saya di
Jogja dengan rencana yang sebelumnya sudah saya susun rapih dan manis.
Tiga hari kemudian dan kuburan Garwo
masih terasa nyeri. Malam pertama saya terbangun pukul 2 dini hari karena
kesakitan setengah mati, sampai dua tablet pereda nyeri saya tenggak. Hasilnya saya
baru bangun pukul 12 siang dan merasa seperti kain gombal kumal dan penuh tar terongok
di garasi seseorang. Tiga hari kemudian dan sudah dua minggu di Jogja. Dan tanpa sadar dari semenjak saya mengenyahkan eksistensi garwo, saya
belum memulai apapun. Apapun yang berarti. Berulang kali melihat kontrakan dan
tidak ada yang berhasil, entah harganya terlalu mahal, ventilasinya tidak
bagus, terlalu dekat dengan tetangga, bangunan yang terlalu baru, catnya terlalu
ngejreng, kamar mandinya terlalu
kotor, lantainya terlalu biru, terlalu dekat dari jalan raya, terlalu jauh dari
jalan raya, terlalu dekat dengan mesjid, terlalu dekat dengan sumur, calon
induk semang yang terlalu cerewet, calon tetangga yang terlalu interogatif, bla
bla bla blllaaaahh... Sudah dua minggu dan satu-satunya check list yang saya
lakukan baru: √ Mencari kontrakan.
Seperti juga pengeluaran untuk eksekusi
Garwo, hal ini tidak pernah masuk dalam rencana sebelumnya. Seharusnya saat ini
saya sudah tidak merasakan nyeri, seharusnya saat ini saya sudah bisa makan
(apapun) dengan perasaan merdeka. Dan seharusnya saat ini saya sudah sedang
menata rumah baru saya. Membeli perabotan untuk ruang kerja saya. Membuat rencana
produksi untuk enam bulan kedepan. Menunggu kiriman mesin jahit dan peralatan
produksi saya. Seharusnya saat ini saya sudah sedang dalam perjalanan yang saya
rencanakan. Mencontreng satu persatu to
do list dan menjalankan hidup baru atau apapun sebutannya dengan senyum
merekah. Bangun pagi dengan secangkir kopi dan perasaan lega. Perasaan lega
karena akhirnya, saya membuat keputusan yang tepat. Keputusan semacam menyingkirkan
Garwo dalam hidup saya, ..atau kembali ke Jogja.
Tentu saja, saya tidak menyesal sudah mengeksekusi Garwo, hanya saja..
mungkin saya terkejut bahwa ternyata hingga hari ini saya masih merasakan
nyerinya, masih terganggu atas memori atasnya, masih meragukan keputusan yang
saya buat, ‘well setidaknya saya bisa
bertahan selama 15 tahun jadi siluman kudanil, apa susahnya bertahan 15 tahun
lagi..’. Seperti juga saat saya mencoba peruntungan di Jakarta, selama satu
tahun saya kembali menggeluti dunia antropologi yang ternyata kembali membuat
saya jatuh cinta, tapi toh tidak berhasil membuat saya jatuh cinta pada
Jakarta. Tapi setidaknya saya berhasil bertahan..
Tidak ada yang pernah bilang kalau memulai akan jadi hal sesulit dan sesunyi ini.
Tidak ada yang pernah bilang kalau memulai akan jadi hal sesulit dan sesunyi ini.
Tidak ada yang lebih menyebalkan selain meragukan keputusan yang sudah
terlanjur dibuat. Itu makanya disebut terlanjur.
Dan perkaranya kali ini tentu saja bukan lagi soal penyesalan, tapi melanjutkan. Semoga saat ini Garwo sudah
tenang, dan mungkin sedikit bahagia melihat penderitaan yang masih dia
tinggalkan pada gusi geraham saya. Saya tidak tahu sampai kapan nyeri ini akan
bertahan, seperti juga saya tidak tahu sampai kapan keraguan akan keputusan
saya untuk kembali ke Jogja dan memulai semua rencana saya dari titik nol besar
ini berakhir. Saya tahu saat ini saya memiliki priviledge yang luar biasa besar dan patut disyukuri, bahwa saya
diberi kemampuan untuk menjalankan rencana atas hidup saya sendiri. I own my
life! What could be better than that?!! Hmmm... Pada kenyataannya saya terlalu
dimabukan dengan daftar-daftar rencana tanpa sebelumnya benar-benar mempersiapkan
diri kalau ini bukan sekadar jalan setapak pinggir kota, apalagi jalan tol
bebas hambatan. Sekali lagi, ini bukan lagi perkara menyesal, tapi melanjutkan.
Bukan pula perkara meyakinkan diri, tapi membuktikan. Hidup lagi-lagi soal
memutuskan dan menerima konsekuensi, soal menahan nyeri dan bertahan sendiri, soal
menunggu waktu dan mencari hasil terbaik, setidaknya untuk kita sendiri.
Istirahat yang tenang Garwo, kepergianmu tidak akan sia-sia, (semoga).
